Situs Bersejarah di Jakarta

Jl. Pangeran Tubagus Angke  Jakarta Barat

Pada tahun 1856 Pangeran Syarif Hamid, seorang Sultan dari Pontianak dibuang ke Batavia (sekarang Jakarta) oleh Belanda. Ketika ia meninggal ia dikuburkan di depan masjid pada tanggal 17 Juli 1858. Makamnya terbuat dari batu pualam dan terdapat tulisan yang menyebutkan usia sultan yakni meninggal dunia dalam usia 64 tahun 35 hari.

Namun nisan yang konon tertua adalah nisan Ny Chen, seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim, dan kini disimpan di samping masjid. Orang dari Pontianak sering mengunjungi makam beliau dan banyak dari mereka telah memutuskan untuk tinggal di Angke. Mesjid Angke yang sekarang terkenal dengan nama Masjid Al-Anwar sangat erat kaitannya dengan orang-orang Cina yang ada di Batavia (sekarang Jakarta).

Jl. Kathedral, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat

Gereja Katedral Jakarta (nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuah gereja di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.

Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh PastorAntonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.

Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli di tempat itu, karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810, namun pada 27 Juli 1826 gedung Gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Lalu pada tanggal 31 Mei 1890 dalam cuaca yang cerah, Gereja itu pun sempat roboh.

Jalan Gerbang Pemuda  Jakarta Pusat

Gelanggang Olahraga (Gelora) Bung Karno adalah sebuah kompleks olahraga serbaguna di Senayan, Jakarta, Indonesia. Kompleks olahraga ini dinamai untuk menghormati Soekarno, Presiden pertama Indonesia, yang juga merupakan tokoh yang mencetuskan gagasan pembangunan kompleks olahraga ini. Dalam rangka de-Soekarnoisasi pada masa Orde Baru, nama kompleks olahraga ini diubah menjadi Gelora Senayan. Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama kompleks olahraga ini dikembalikan kepada namanya semula yaitu Gelora Bung Karno.

Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.

Selain sebagai tempat berolahraga, kawasan Gelora Bung Karno oleh berbagai kelompok masyarakat sering dimanfaatkan sebagai ajang temu. Selain itu pada awal tujuan dibangunnya stadion ini, Presiden Soekarno juga menginginkan kompleks olahraga yang dibangun untuk Asian GamesIV 1962 ini juga hendaknya dijadikan sebagai paru-paru kota dan ruang terbuka tempat warga berkumpul.

Jl. Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat Telp: (62) (21) 344-0747

Gereja ini terletak di depan stasiun kereta api Gambir, Jakarta Pusat. Gereja ini dibangun di bawah perjanjian Lutheran. Gereja ini dirancang oleh JH Horst, dan konstruksi dimulai pada tahun 1834. Pada tanggal 24 Agustus 1835, telah mulai dikerjakan dan tepat 4 tahun kemudian, pada tanggal 24 Agustus 1839, konstruksi telah selesai.

Gereja bernama “Willemskerk” untuk menghormati Raja Willem I. Bagian depan gereja menghadap stasiun kereta api Gambir. Dalam bagian  depan ini berbentuk persegi dengan berdiri empat pilar.  Dengan

bergaya klasik abad 18 yang menekankan pada komposisi simetris dan harmonis, dibangun sebuah kubah yang memungkinkan sinar matahari dapat melalui seluruh kamar. Hal ini telah dilakukan oleh lotus dihiasi dengan enam daun pintu, sebagai simbol Mesir untuk dewi cahaya.

Jl. Taman Wijaya Kusuma,Jakarta Pusat

Masjid Istiqlal adalah masjid yang terletak di pusat ibukota negara Republik Indonesia, Jakarta. Pada tahun 1970-an, masjid ini adalah masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Sukarno di mana pemancangan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban.

Lokasi masjid ini berada di timur laut lapangan Monumen Nasional (Monas). Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai. Masjid ini mempunyai kubah yang diameternya 45 meter. Masjid ini mampu menampung orang hingga lebih dari sepuluh ribu jamaah.

Selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid ini juga digunakan sebagai kantor Majelis Ulama Indonesia, aktivitas sosial, dan kegiatan umum. Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung umumnya wisatawan domestik, dan sebagian wisatawan asing yang beragama Islam. Tidak diketahui apakah umat non-Islam dapat berkunjung ke masjid ini.

Pada tiap hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi Muhammad, presiden Republik Indonesia selalu mengadakan kegiatan keagamaan di masjid ini yang disiarkan secara langsung melalui televisi.

Jl. Hayam Wuruk, Jakarta Jakarta Barat

Terletak di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Tampaknya Masjid ini dibangun pada pertengahan abad 18 oleh orang-orang Cina peranakan yang telah memeluk  Islam.

Masjid Luar Batang, Jakarta  Jakarta Utara Lokasinya berada di Jalan Luar Batang I, Kampung Luar Batang, Jakarta Utara. Banyak orang Jawa yang tinggal disini, makanya dalam peta yang dibuat Van Der Parra tahun 1780 lokasi disebut Javasche Kwartier, namun setelah itu orang lebih mengenalnya Luar Batang. Usut punya usut, orang pada saat itu jika ke lokasi ini berarti ke luar kota dan harus melewati tanda batas dalam bentuk batang, tidak dijelaskan batang apa. Maka kemudian dikenalkan dengan sebutan Luar Batang hingga kini.

Keberadaan fungsi mesjid ini ada sejak tahun 1739. Awalnya sebagai musholla orang-orang Jawa. Mesjid ini jadi keramat karena ada makam Sayid Husein bin Abubakar bin Abidillah Al Aidrus yang wafat pada tanggal 24 Juni 1756. Mesjid ini sering didatangi peziarah dari berbagai pelosok tanah air.

Masjid Marunda, Jakarta  Jakarta Utara. Masjid ini terletak di tepi pantai Marunda, Jakarta Utara. Masjid yang mungil ini bentuknya sangat sederhana dengan tiang penopang yang disebut soko guru bergaya Eropa. Masjid ini dibangun sekitarnya abad 18.

Istana Merdeka
Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat

Kediaman resmi Presiden Republik Indonesia, terletak di Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Bangunan ini didirikan pada tahun 1794, kemudian pada tahun 1812 oleh Raffles, sejak tahun 1816 gedung ini dijadikan kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Gubernur Jenderal yang terakhir adalah Tjarda Van Starkenborgh

Stachower

Ministry of Finance Building
Jl. Lapangan Banteng Timur, Jakarta Pusat

Gedung ini terletak dijalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta Pusat. Dahulu direncanakan sebagai istana dari Gubernur Jenderal Daendels, akan tetapi proyek pekerjaannya tak kunjung rampung sampai Deandels angkat kaki dari Indonesia tahun 1811, pekerjaan dirampungkan oleh Gubernur Jenderal selanjutnya.

Gedung Arsip Nasional
Jl. Gajah Mada, Jakarta Barat

Gedung yang amat megah di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat ini dibangun pada tahun 1760 oleh Reiner de Klerk. Gedung ini salah satu contoh villa pada masa itu. Pada masa-masa kemudian gedung ini acap kali berpindah pemiliknya.

Monumen Nasional
Merdeka Square, Jakarta Pusat

Arsitektur Tugu Monumen Nasional dan dimensinya mengandung penuh makna lambang khas budaya bangsa Indonesi. Bentuk tugu yang menjulang tinggi melambangkan Lingga, sedangkan pelataran cawan melambangkan Yoni. Di pelataran puncak tugu, terdapat api yang tak kunjung padam yang melambangkan tekad bangsa Indonesia untuk berjuang yang tak kunjung padam sepanjang masa.

Monumen Nasional terdiri dari 4 bagian utama yaitu

  1. Ruang museum sejarah, terdapat 51 jendela peraga (diorama) pristiwa sejarah bangsa Indonesia sampai dengan orde baru.
  2. Ruang kemerdekaan, terdapat atribut kemerdekaan Republik Indonesia, Peta kepulauan Republik Indonesia, Bendera Sang Saka Merah Putih, Lambang Negara Bhineka Tunggal Ika, dan pintu Gapura yang berisi Naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
  3. Pelataran puncak, di pelataran ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta di ketinggian 115 M dari permukaan.
  4. Lidah api kemerdekaan, terdapat di pelataran puncak yang terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dengan tinggi 14 m dan diameter 6 meter. Seluruh bagian dilapisi emas dengan berat kurang lebih 50 kMonas dibuka setiap hari dari pukul 08:30 hingga 17:00, Sabtu, Minggu dan hari libur, sampai pukul 19:00.

Toko Merah
Jl. Kali Besar, Jakarta Barat

Di  Jalan Kali Besar Barat Jakarta Barat, di masa VOC merupakan pusat kota Batavia, terdapat sebuah gedung yang hampir seluruh bagian depannya berwarna merah. Toko Merah nama gedung itu, kini masih tetap berdiri kokoh meskipun telah berusia tiga abad. Sejumlah gubernur jenderal VOC pernah mendiami gedung ini, yang kala itu terletak di tengah kota Batavia berbenteng.

Gustaf Baron van Imhoff membangun gedung berlantai dua itu pada 1730. Gedung itu telah menyaksikan berbagai peristiwa penting, yang dialami kota Batavia. Setidak-tidaknya di depan gedung yang mengalir sungai Groote Rivier ( Kali Besar ) itu perna terjadi suatu kerusuhan besar ketika terjadi pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa

Peristiwa itu terjadi 10 tahun setelah gedung tersebut berdiri ( 1740 ). Setelah peristiwa berdarah pembantaian warga Tionghoa, selain sebagai kampung Akademi Maritim ( Academiede Marine ), gedung itu juga menjadi asrama para kadet.

Pelabuhan Sunda Kelapa
Jalan Maritim Raya, Jakarta Utara

adalah nama sebuah pelabuhan dan tempat sekitarnya di Jakarta. Pelabuhan ini terletak di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara. Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta, daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal bakal kota Jakarta.

Kala itu Sunda Kelapa milik Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran atau Pajajaran yang direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon. Walaupun hari jadi kota Jakarta baru ditetapkan pada abad ke 16, sejarah Sunda Kelapa sudah dimulai jauh lebih awal, yaitu pada jaman pendahulu Kerajaan Sunda, yaitu kerajaan Tarumanagara.

Kerajaan Tarumanagara pernah diserang dan ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kelapa menggunakan bahasa Melayu yang umum di Sumatera, yang kemudian dijadikan bahasa nasional  jauh sebelum peristiwa Sumpah Pemuda.

Tugu Church
Jl. Raya Tugu, Jakarta Utara

Gereja ini terletak di Jalan Raya Tugu, Jakarta Utara dan dibangun pada tahun 1725 oleh Pendeta Belanda yang bernama Van der Tydt untuk para budak yang pernah bekerja di Malaka dibawah kekuasaan Portugis. Pada tahun 1742 gereja ini hancur akibat pemberontakan Cina di Batavia. Dibangun kembali 1747 oleh Father Maudidts Mohr.

Gedung Sumpah Pemuda
Jl. Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat

Terletak di Jalan Kramat Raya No. 106 Jakarta Pusat. Di gedung ini pernah berkumpul wakil-wakil organisasi dari seluruh Indonesia dan menyatakan tekadnya satu nusa, satu bangsa, satu bahasa yakni Indonesia. Peristiwa ini dikenal dengan Hari Sumpah Pemuda yang dirayakan setiap tahunnya oleh bangsa Indonesia.

Taman Fatahillah 
Jl. Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat

Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ” stadhuisplein”. Menurut sebuah lukisan yang dibuat oleh pegawai VOC ” Johannes Rach ” yang berasal dari    ” Denmark ”, ditengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap  lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengan Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu ” Taman Fatahillah ” untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.

Museum Sejarah Jakarta
Jl. Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat
Phone: (62 21) 692-9101 / 690-1483
Fax. (62 21) 690-2387

Berada di Jalan Taman Fatahillah No.1 dan mulanya merupakan Gedung Balaikota ( Staadhuis ) pertama di Batavia yang dibangun pada tahun 1627 ( tambahan pada gedung aslinya dibuat antara tahun 1705-1715 ). Alun-alunnya dinamakan Stadthuisplen yang artinya lapangan balaikota. Pada tahun 1970 gedung ini dipugar dan pada tanggal 4 April 1974, diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta.

Selain sebagai Staadhuis, gedung ini juga menjadi College van Schepen ( Dewan Kotapraja ) yang menangani berbagai perkara pidana dan perdata antar warga Batavia.

Koleksi yang tersimpan di Museum Sejarah Jakarta ialah uang logam zaman VOC, aneka dacin/timbangan, perabotan rumah tangga antik dari abad 17-19, benda-benda arkeologi dari masa pra-sejarah, masa Hindu Budha hingga masa Islam, meriam kuno serta bendera dari zaman Fatahillah. Juga terdapat lukisan-lukisan karya Raden Saleh, potret Gubernur Jenderal dan peta-peta tua.

Museum Wayang
Pluit Jakarta Utara

Terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat. Gedung yang tampak unik dan menarik ini telah beberapa kali mengalami perombakan. Pada awalnya bangunan ini bernama De Oude Hollandsche Kerk    ( Gereja Lama Belanda ) dan dibangun  pertama kali pada tahun1640. Tahun 1732 diperbaiki  dan berganti nama De Nieuwe Hollandse Kerk ( Gereja Baru Belanda )  hingga tahun 1808 akibat hancur oleh oleh gempa bumi pada tahun sama. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedumh Museum Wayang dan diresmikan pemakainnya sebagai museum pada 13 Agustus 1975. Meskipun telag dipugar beberapa bagian gereja lama dan baru masih tampak terlihat dalam bangunan ini.

Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit  maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar  negeri  ada juga disini, misalnya  dari Tiongkok dan Kamboja.

Hingga kini Museum Wayang mengeloksi lebih dari 4.000 buah wayang, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber dan gamelan. Umumnya boneka yang dikoleksi  di museum ini adalah boneka-boneka yang berasal dari Eropa meskipun ada juga yang bersal dari beberapa negara non Eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia.

Museum Keramik
Jl. Pos Kota No. 2  Jakarta Barat
Phone: (62 21) 690-7062 / 692-6090 / 692-6092

Terletak di Jalan Pos Kota No. 2, Jakarta Barat. Gedung yang dibangun pada tanggal 12 Januari 1870 itu awalnya digunakan  oleh Pemerintah Hindia-Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia ( Ordinaris Raad Van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia ) dan dikenal dengan nama Gedung Raad Van Justitie.

Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat itu dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI.

Pada tanggal 10 Januari 1972, gedung dengan delapan tiang besar dibagian depan ini dijadikan bangunan bersejarah. Tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat dan baru setelah itu diresmikan sebagai Balai Seni Rupa Jakarta. Koleksi memamerkan  aneka ragam karya seni lukis dari berbagai aliran mulai dari karya Raden Saleh sehingga karya abstrak, keramik kuno baik asing maupun lokal dan keramik kontenporer.

Museum Textile
Jl. Aipda K.S. Tubun No. 4 Jakarta Pusat
Phone: (62 21) 560-6613

Terletak di Jalan Karel Satsuit Tubun No. 4 Jakarta Barat, peresmian penggunaan Museum Tekstil oleh Almarhum Ibu Tien Soeharto pada tanggal 28 Juni 1976. Gedungnya sendiri pada mulanya adalah rumah pribadi seorang warga negara Perancis yang dibangun pada abad 19, kemudian dibeli oleh Konsultan Turki bernama Abdul Azis Al Mussawi Al Katiri yang menetap di Indonesia.

Pada tahun 1942 dijual kepada Dr. Karel Christian Cruq, dimasa perjuangan gedung ini menjadi Markas Barisana Keamanan Rakyat ( MBKR) dan pada tahun 1947 didiami oleh Lie Sion Pin pada tahun 1952 dibeli oleh Departemen Sosial dan pada tanggal 25 Oktober 1975 diserahkan pada Pemerintah DKI Jakarta untuk dijadikan museum.

Museum Tekstil  mengetengahkan koleksi-koleksi kain-kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, kain batik, ikat dan pelangi adalah jenis –jenis kain yang paling menonjol dan merupakan cara-cara penciptaan polar agam hias kain. Adapun sablon, lukis tangan dan prada merupakan teknis-teknis pewarnaan. Adapun jenis koleksi dibagi dalam beberapa kelompok yaitu :

  1. Kelompok koleksi kain tenun
  2. Kelompok koleksi kain batik
  3. Kelompok koleksi campuran.
  1. Hey would you mind letting me know which web host you’re working with?

    I’ve loaded your blog in 3 completely different internet browsers and I must say this blog loads
    a lot quicker then most. Can you recommend a good internet hosting provider
    at a fair price? Thanks a lot, I appreciate it!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: